Kamis, 04 Februari 2010

Orientasi Bisnis Syari'ah

Sejalan dengan kaidah ushul “al-ashlu fi al-af’al at-taqayyub bihkmi asy-syar’i”, yang berarti bahwa hukum asal suatu perbuatan adalah terikat dengan hukum syara’: wajib sunnah, mubah, makruh, atau haram, maka pelaksanaan bisnis terus tetap berpegang pada ketentuan syariat. Dengan kata lain, syariat merupakan nilai utama yang menjadi payung strategis maupun teknis organisasi bisnis.

Dengan kendali syariat, bisnis bertujuan untuk mencapai empat hal utama:

1. Target hasil: profit-materi dan benefit-nonmateri,

2. Pertumbuhan, artinya terus meningkat,

3. Keberlangsungan, dalam kurun waktu selama mungkin dan

4. Keberkahan atau keridhaan Allah.

Target hasil: profit-materi dan benefit-nonmateri. Tujuan perusahaan tidak harus hanya untuk mencari profit (qimah madiyah atau nilai materi) setinggi-tingginya, tetapi juga harus dapat memperoleh dan memberikan benefit (keuntungan atau manfaat) nonmateri kepada internal organisasi perusahaan dan eksternal (lingkungan), seperti terciptanya suasana persaudaraan, kepedulian sosial, dan sebagainya.

Benefit yang dimaksudkan tidaklah semata memberikan manfaat kebendaan, tetapi juga dapat bersifat nonmateri. Islam memandang bahwa tujuan suatu amal perbuatan tidak hanya berorientasi pada qimah madiyah/nilai materi. Masih ada tiga orientasi lainnya, yakni qimah insaniyah/nilai kemanusiaan, qimah khuluqiyah/nilai akhlak, dan qimah ruhiyah/nilai ruhiyah. Dengan orientasi qimah insaniyah/nilai kemanusiaan, berarti pengelola perusahaan juga dapat memberikan manfaat yang bersifat kemanusiaan melalui kesempatan kerja, bantuan sosial (sedekah), dan bantuan lainnya. Qimah khuluqiyah/nilai akhlak mengandung pengertian bahwa nilai-nilai akhlaqul karimah (akhlak mulia) menjadi suatu keharusan yang harus muncul dalam setiap aktivitas pengelolaan perusahaan, sehingga dalam perusahaan tercipta hubungan persaudaraan yang islami, bukan sekedar hubungan fungsional atau profesional. Sementara itu, qimah ruhiyah berarti perbuatan tersebut dimaksudkan untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Dalam setiap amalnya, seorang muslim selain harus berusaha meraih qimah/nilai yang dituju, upaya yang dilakukan juga haruslah sesuai dengan aturan Islam. Dengan kata lain, ketika melakukan suatu aktivitas harus disertai dengan kesadaran hubungannya dengan Allah. Jadi, amal perbuatannya bersifat materi, sedangkan kesadaran akan hubungannya dengan Allah swt ketika melakukan setiap perbuatan dinamakan dengan ruh. Inilah yang dimaksud dengan menyatukan antara materi dan ruh. Inilah juga yang dimaksud bahwa setiap perbuatan muslim adalah ibadah.

Pertumbuhan. Jika profit materi dan benefit nonmateri telah diraih sesuai target, perusahaan akan mengupayakan pertumbuhan atau kenaikan terus-menerus dari setiap profit dan benefitnya itu. Hasil perusahaan akan terus diupayakan agar tumbuh meningkat setiap tahunnya. Upaya penumbuhan ini tentu dijalankan dalam koridor syariat. Misalnya, dalam meningkatkan jumlah produksi seiring dengan perluasan pasar, peningkatan inovasi sehingga bisa menghasilkan produk baru dan sebagainya.

Keberlangsungan. Belum sempurna orientasi manajemen suatu perusahaan bila hanya berhenti pada pencapaian target hasil dan pertumbuhan. Karena itu, perlu diupayakan terus agar pertumbuhan target hasil yang telah diraih dapat dijaga keberlangsungannya dalam kurun waktu yang cukup lama. Sebagaimana upaya pertumbuhan, setiap aktivitas untuk menjaga keberlangsungan tersebut juga dijalankan dalam koridor syariah.

Keberkahan. Faktor keberkahan atau orientasi untuk menggapai ridha Allah swt merupakan puncak kebahagiaan hidup manusia muslim. Bila ini tercapai, menandakan terpenuhinya dua syarat diterimanya amal manusia, yakni adanya elemen niat ikhlas dan cara yang sesuai dengan tuntunan syariat. Karenanya, para pengelola bisnis perlu mematok orientasi keberkahan yang dimaksud agar pencapaian segala orientasi diatas senantiasa berada dalam koridor syariat yang menjamin diraihnya keridhaan Allah swt.

HIKMAH



Diri penjelasan diatas bisa kita ambil kesimpulan bahwa Syariat merupakan nilai utama yang menjadi payung strategis maupun teknis organisasi bisnis. Dengan kendali syariat, bisnis bertujuan untuk mencapai empat hal utama:

1. Target hasil: profit-materi dan benefit-nonmateri,

2. Pertumbuhan, artinya terus meningkat,

3. Keberlangsungan, dalam kurun waktu selama mungkin dan

4. Keberkahan atau keridhaan Allah.

Profit materi adalah keuntungan yang bersifat materi atau nilai materi, sedangkan benefit nonmateri adalah keuntungan atau manfaat nonmateri pada internal dan eksternal perusahaan, seperti terciptanya persaudaraan dan kepedulian sesama.