Kamis, 04 Februari 2010

Tamak

Tamak adalah sifat yang tidak pernah puas dengan apa yang telah ada, Sifat tamak adalah salah satu sifat buruk, yang wujud secara bersama dengan sifat buruk lain seperti angkuh, cinta akan dunia, tidak amanah dan iri hati. Ia berlawanan dengan sifat bersyukur, ikhlas, pemurah, rendah diri dan jujur. Justeru, Islam menggalakkan umatnya mencari harta dan kedudukan yang baik dalam masyarakat. Sekiranya usaha itu dilakukan dengan ikhlas menepati tuntutan syariat, maka ia juga termasuk dalam kategori ibadah. Individu yang melakukan amanah itu beroleh keuntungan di dunia dan akhirat sekaligus.
Sebaliknya, sikap tamak meletakkan urusan mencari kekayaan dan kedudukan dengan jalan yang melampau batas dan terdorong melakukan perbuatan salah. Orang tamak senantiasa tidak puas dan merasa cukup dengan apa yang dimiliki. Sikap terlalu cinta akan kebendaan dan kemewahan mendorong perasaan untuk memiliki semua apa yang ada di dunia ini.
Orang tamak senantiasa lapar dan dahaga akan kehidupan dunia. Makin banyak yang diperoleh dan menjadi miliknya, semakin rasa lapar dan dahaga untuk mendapatkan lebih banyak lagi. Jadi, mereka sebenarnya tidak dapat menikmati kebaikan daripada apa yang dimiliki, sebaliknya menjadi satu beban hidup yang harus mereka pikul untuk jangka waktu yang lama selama mereka masih mempunyai sifat tamak tersebut. Sesungguhnya Allah mencipta manusia sebagai khalifah untuk melaksanakan tanggungjawab sebagai hamba-Nya. Firman Allah yang bermaksud:
“Tidak Aku jadikan jin dan manusia kecuali supaya mengabdikan diri kepada-Ku.” (dz-Dzariyat: 56).
Ironinya, orang tamak tidak pernah berasakan dirinya sebagai hamba-Nya. Sebaliknya, mereka menjadi hamba kepada dunia dan bertuhankan nafsu. Mereka mempertaruhkan seluruh usaha untuk mengejar bayang kemewahan dunia. Sebab itu, orang tamak biasanya takut akan mati. Mereka cinta dunia dan senantiasa mengejar kemewahan hidup.
Sabda Rasulullah yang bermaksud:
“Hari kiamat telah hampir dan manusia masih lagi bertambah tamak kepada dunia dan bertambah jauh daripada Allah.” (Hadis riwayat Tirmizi, Ibnu Majah dan Hakim).
Sebenarnya orang tamak selalu rugi. Sifat tidak bersyukur dan tidak puas dengan apa diperoleh, menyebabkan hidup makin tertekan. Perasaan tidak puas atau tidak cukup dengan apa yang dimiliki adalah satu penyakit jiwa yang boleh menyebabkan seseorang hilang petunjuk hidup. Sesungguhnya harta itu ialah amanah Allah kepada seseorang. Harta hendaklah dicari dengan cara yang halal dan kemudian dibelanjakan pula ke jalan kebaikan. Orang yang memiliki harta menunjukkan rasa bersyukur dengan cara mengeluarkan zakat dan bersedekah.
2 Jenis Orang Tamak
Ada dua orang yang tamak dan masing-masing tidak akan puas. Pertama, orang tamak untuk menuntut ilmu, dia tidak akan puas. Kedua, orang tamak memburu harta, dia tidak akan puas. (Nabi Muhammad saw) Menurut hadis yang diriwayatkan oleh Thabrani dari Ibnu Abbas ra di atas, ada dua karakter orang tamak yang tidak akan pernah puas terhadap apa yang dimilikinya dan senantiasa berusaha untuk menambahnya.
Namun, keduanya memiliki karakteristik yang berbeda menurut sisi pandang Islam. Adalah terpuji jika ada seorang Muslim yang tamak terhadap ilmu. Muslim seperti ini senantiasa menginginkan derajat keilmuan, akhlak, amal kebajikan, dan usahanya untuk meraih kemuliaan, yang akan mengetuk hatinya untuk menapaki tangga kesempurnaan sebagai seorang Muslim. Ia selalu memanfaatkan segala kesempatan untuk mengkaji Islam dalam memecahkan problem kehidupan manusia dengan hikmah. Sabda Rasulullah saw,
“Ilmu laksana hak milik seorang Mukmin yang hilang, di manapun ia menjumpainya, di sana ia mengambilnya,” (HR Al Askari dari Anas ra).
Sedangkan ketamakan terhadap harta hanyalah akan menghasilkan sifat buas, laksana serigala yang terus mengejar dan memangsa buruannya walaupun harta itu bukan haknya. Fitrah manusia memang sangat mencintai harta kekayaan dan berhasrat keras mendapatkannya sebanyak mungkin dengan segala cara dan usaha. Firman Allah S.W.T:
Katakanlah (hai Muhammad), jika seandainya kalian menguasai semua perbendaharaan rahmat Tuhan, niscaya perbendaharaan (kekayaan) itu kalian tahan (simpan) karena takut menginfakkannya (mengeluarkannya). Manusia itu memang sangat kikir. (QS Al Isra': 100).
Rasulullah saw bersabda,
“Hamba Allah selalu mengatakan, 'Hartaku, hartaku', padahal hanya dalam tiga soal saja yang menjadi miliknya yaitu apa yang dimakan sampai habis, apa yang dipakai hingga rusak, dan apa yang diberikan kepada orang sebagai kebajikan. Selain itu harus dianggap kekayaan hilang yang ditinggalkan untuk kepentingan orang lain,” (HR Muslim).
Seorang Mukmin adalah orang yang meyakini bahwa rezeki telah ditentukan oleh Allah S.W.T. Dia juga yakin bahwa setiap manusia tidak akan menemui ajalnya sebelum semua rezeki yang telah ditetapkan oleh Allah dicukupkan kepadanya. Ia merasa cukup terhadap harta yang telah diperolehnya dan menyadari ada hak orang lain atas kelebihan harta yang dimilikinya. Ia infakkan sebagian hartanya di jalan Allah untuk membantu saudara-saudaranya yang dilanda kelaparan dan kekurangan. Demikianlah yang patut dilakukan seorang Muslim dan ia tidak lagi silau terhadap kekayaan orang lain yang dihimpun karena ketamakan.

Perbedaan Sifat Tamak dan Qona'ah, Wara, Zuhud
1. Tamak dan Qona’ah
Perbedaan antara orang yang bersifat tamak dengan orang yang bersifat Qona'ah adalah, jika orang yang tamak hidupnya selalu terbelenggu oleh nafsu dan ambisi untuk menguasai dunia. Sedangkan orang yang qona'ah, maka hidupnya akan terbebas dari segala macam belenggu nafsu dan ambisi. Hal ini adalah disebabkan karena mereka merasa yakin dan percaya sepenuhnya akan takdir Tuhan.
Perhatikan dan renungkan sebuah syair berikut ini;

"terimalah dan jangan tamak, maka tidak ada sesuatupun yang memberi aib kecuali tamak".
Berikut ini juga dikemukakan sebuah Hadist Rasulullah yang diriwayatkan oleh Bukhori dan muslim, yang artinya:

"Hakim bin izam r.a. Berkata: Saya minta kepada Nabi S.A.W. Maka Nabi memberi kepadaku. Kemudian minta kepadanya dan diberi. Kemudian saya minta kepadanya, dan diberi sambil berkata : Hai Hakim, harta ini memang indah dan manis, maka siapa yang mengambilnya dengan kelapangan hati diberi berkat baginya. Sebaliknya siapa yang menerimanya dengan rakus, tidak berkat baginya, bagaikan orang makan tapi tak kunjung kenyang. Dan tangan yang di atas lebih baik dari tangan yang dibawah. Berkata Hakim : Ya Rasulullah, demi Allah yang mengutus engkau dengan haq, saya tidak akan menerima apapun dari seseorang sepeninggalmu hingga wafat. Kemudian pada masa Kholifah Abu Bakar, memanggilnya untuk memberi belanja padanya, belanjanya dari baitul Mal, ditolak oleh Hakim dan tidak mau menerima sedikitpun daripadanya, juga pada masa Kholifah Umar, Beliau memanggil Hakim untuk menerima belanjanya, tetapi ia (Hakim) tidak mau menerimanya, Umar berkata kepada kaum Muslim : saya mempersaksikan kepada kamu sekalian, bahwa saya telah memberi kepada Hakim bagiannya dari Fa'i tetapi ia menolak untuk menerimanya. Tapi tetap Hakim tidak mau menerima dari seorang pun sesudah Nabi S.A.W. Hingga meninggal. (HR. Bukhori dan Muslim)
2. Tamak dan Wara
Tidak akan berkembang cabang-cabang kehinaan melainkan berkembang di atas biji tamak. Tamak dan rakus kepada dunia, dapat menyebabkan hati seseorang terombang-ambing dan selalu dikejar-kejar nafsu untuk menumpuk harta sebanyak-banyaknya, tanpa memperdulikan apakah harta tersebut diperoleh dengan cara yang halal ataukah haram. Sehingga pada akhirnya orang yang demikian ini akan terjatuh ke dalam jurang kehinaan, karena bukan lagi dirinya yang menguasai dan memperalat harta, tetapi justru dirinyalah yang dikuasai dan diperbudak harta.
Adapun kebalikan dari sifat tamak adalah Wara. Seseorang yang apabila di dalam hatinya terdapat sifat Wara, maka hidupnya akan tenang dan tentram tanpa terusik oleh nafsu untuk menguasai dunia (harta). Dalam usahanya untuk mencukupi kebutuhan hidupnya, ia akan selalu memperhatikan ketentuan-ketentuan Allah (pantang baginya mendapat barang atau harta yang meragukan hatinya, apalagi yang haram). Orang yang demikian inilah yang dapat mencapai derajat kemuliaan, sebagai derajat orang-Orang mukmin. Ali bin Abi Tholib pernah bertanya kepada Hasan Bishri, yang merupakan seorang ulama besar pada zaman itu:
*. wahai tuan Hasan Bishri, perkara apakah yang dapat menegakkan agama?
#. Yang dapat menegakkan agama adalah Wara.
*. Dan pekara apa yang apa yang dapat merusak agama?.
#. Yang dapat merusak agama adalah sifat tamak.
Dengan demikian, kita hendaknya membersikan hati ini dari sifat tamak dan berusaha menanamkan sifat Wara, agar agama (Islam) yang kita cintai ini tetap tegak dengan kokohnya. Janganlah silau dengan kenikmatan seaat yang hanya akan menengelamkan kita pada kesengsaraan.
3. Zuhud dan Tamak
Orang yang bersikap zuhud adalah orang yang dicintai oleh Allah dan manusia sedangkan orang yang tamak adalah orang yang hanya mementingkan kepentingan dunia dan tamak adalah sifat yang tercela.
Seorang sahabat datang kepada Nabi Saw dan bertanya, "Ya Rasulullah, tunjukkan kepadaku suatu amalan yang bila aku amalkan niscaya aku akan dicintai Allah dan manusia." Rasulullah Saw menjawab, "Hiduplah di dunia dengan berzuhud (bersahaja) maka kamu akan dicintai Allah, dan jangan tamak terhadap apa yang ada di tangan manusia, niscaya kamu akan disenangi manusia." (HR. Ibnu Majah).
Telah sukses orang yang beriman dan memperoleh rezeki yang kecil dan hatinya pun akan disenangkan Allah dengan pemberianNya itu. (HR. Muslim)
Cukup bagi anak Adam beberapa suap makanan untuk menegakkan tulang punggungnya. (HR. Ath-Thabrani).
Barangsiapa ridho dengan rezeki yang sedikit dari Allah maka Allah akan ridho dengan amal yang sedikit dari dia, dan menanti-nanti (mengharap-harap) kelapangan adalah suatu ibadah. (HR. Bukhari)
Kepuasan (rela dengan bagiannya) adalah pusaka yang tidak bisa hilang. (HR. Al-Baihaqi)
Barangsiapa zuhud di dunia maka ringan baginya segala musibah. (HR. Asysyihaab)
Dua orang pelahap yang tidak pernah kenyang yaitu penuntut ilmu dan penuntut dunia. (HR. Al Bazzaar)
Ketamakan menghilangkan kebijaksanaan dari hati para ulama. (HR. Ath-Thabrani)
Kekayaan bukan banyaknya harta-benda yang dimiliki tetapi kekayaan jiwa. (HR. Bukhari)
Tamak, Hijab, Dibalik Imajinasi

"Tak ada yang lebih menyuburkan cabang pohon kehinaan, melainkan dari biji ketamakan". Tamak adalah sifat hina, dan merupakan biji yang bisa memanjangkan pohon kehinaan itu sendiri manakala kita tanam dalam tubuh kita. Tamak itu sendiri adalah ketergantungan hati kita terhadap apa yang ada di tangan orang lain (makhluk).

Syeikh Abul Abbas al-Mursy, "Demi Allah, saya tidak melihat kemuliaan kecuali menghilangkan hasrat terhadap sesama makhluk."
Kenapa Tamak menjadi sendi utama kehinaan? Karena orang yang tamak pasti meninggalkan Tuhan dan gairah hati hanya kepada selain Allah, kemudian ia bergantung kepada makhluk yang hakikatnya hina, lalu dia hanya mengaitkan dari kehinaan dengan kehinaan baru. Mari kita contoh Bapak Nabiyullah Ibrahim as, ketika mengatakan, "Sesungguhnya aku tidak senang dengan yang bisa sirna." Padahal segala hal selain Allah adalah sirna." Ketika Nabiyullah Ibrahim dihukum oleh Raja Namrud untuk dibakar, Malaikat Jibril As, ingin sekali menolongnya. "Apa kau membutuhkan sesuatu (pertolongan?)" tawar Jibril. "Kalau untukmu tidak. Kalau kepada Allah, memang!" jawab Nabi Ibrahim as. "kalau begitu mohonlah kepadaNya." Lalu Nabi Ibrahim balik menjawab, "Cukuplah permohonanku bahwa Dia mengetahui kondisiku."
Coba kita renungkan bagaimana Nabi Ibrahim as, menghilangkan keterkaitan sesama makhluk termasuk dengan Jibril as, dan hanya memohon pertolongan dengan Allah, dan itu pun dengan kalimat kepasrahatan total kepada Allah.
wahai penempuh Jalan Ilahi, Hendaknya anda menghilangkan hasrat harapanmu kepada sesama makhluk, dan jangan membuat dirimu hina di hadapan mereka, dalam soal rizki, dimana bagiannya telah tergariskan."
Abul Hasan Al-Warraq ra berkata, "Siapa yang merasakan cinta terhadap sesuatu dari dunia, berarti ia telah dibunuh oleh pedang ketamakan. Kalau Tamak ditanya siapa bapakmu? Maka sang tamak mengatakan, "Keraguan terhadap takdir".
Kalau ditanya apa pekerjaanmu wahai tamak? "Pekerjaanku adalah menciptakan kehinaan." Jika ditanya apa tujuanmu? "Tujuanku adalah menghalangi hamba dengan Allah."

Darimana munculnya Tamak? Ternyata yang memunculkan sifat tamak dalam diri kita adalah Imajinasi (lamunan, Wahm). Karena itu Ibnu Athaillah melanjutkan:
"Tak ada yang lebih mendorong kepada Tamak melainkan imajinasi (wahm) itu sendiri"
Dorongan imajinatif, dan lamunan-lamunan panjang yang palsu senantiasa menjuruskan kita pada ketamakan dan segala bentuk keinginan yang ada kaitannya dengan kekuatan, kekuasaan, fasilitas makhluk.
Bahkan wahm atau imajinasi itulah yang memproduksi hijab-hijab penghalang antara kita dengan Allah Ta'ala. Sehingga pencerahan cahaya yakin sirna ditutup oleh hal-hal yang imajiner belaka. Sebagian orang arif berkata, "Jangan sampai anda menduga bahwa diri anda hadir di depan Allah sementara ada sesuatu di belakang anda yang masih menarik diri Anda. "Maka perlu direnungi firman Allah Ta'ala, "Ketika hari, dimana harta dan anak-anak tidak lagi berguna.. kecuali hamba Allah yang mendapatkan Qalbun Salim".

Qalbun Salim adalah hati yang selamat dari segala hal selain Allah Ta'ala. Kesimpulannya memang imajinasi itu menjadi hijab. Namun dari segi implementasi hijab ini terbagi tiga:
Hijab bagi kaum awam, berupa dorongan imajinatif untuk bergantung dengan sesama makhluk dan terhalang untuk berjalan menuju kepada Allah.
Hijab bagi kaum khowash (kalangan khusus) manakala masih berbekas adanya wujud dunia dan terpaku pada cahaya-cahaya pencerahan.
Bagi kaum khowashul khowash (kalangan sangat khusus) adalah halangan yang terbebas dari hijab.
Karena itu jika ketamakan menyimpulkan kehinaan, sementara ubudiyah, yaqin dan wara' menumbuhkan kemuliaan dan kebebasan, maka beliau melanjutkan, dalam matan Al-Hikam berikutnya:"Anda adalah bebas merdeka manakala asa Anda putus dari orang yang Anda tamaki, dan anda menjadi budak bagi yang Anda harapkan."
Padahal seluruh jagad semesta ini adalah hamba Allah dan tunduk atas perintahNya. Jika anda berada dan bersama dengan jagad semesta, sepanjang tidak melihat yang mencipta alam semesta, maka alam semestalah yang bersama Anda.
Padahal siapa yang menjadi hamba Allah, berarti bebas dari segala hal selain Allah.
ORANG TAMAK SELALU GAGAL
Orang yang tamak, semua hanya untuk dirinya sendiri, akan mengalami kegagalan. Ini bukan mitos atau rekaan tetapi kenyataan yang perlu kita ketahui. Jika Anda mempunyai sikap demikian sebaiknya buanglah jauh-jauh karena sikap ini kalau menjadi pakaian kita pasti menyebabkan kita selalu di kejar oleh kegagalan.
Mulai sekarang buanglah sikap tamak, semua hanya untuk diri sendiri, semua hanya dipergunakan sendiri itu dengan menanam sikap untuk kepentingan bersama. Allah S.W.T memberikan rezeki kepada semua umat manusia dan bukan dipilih-pilih. Siapa yang rajin berusaha akan mendapat lebih dan begitulah sebaliknya. Oleh karena itu sebagai manusia tidak baik kita selalu tamak dengan pemberian Tuhan ini.
Tamak ini boleh didefinisikan bahwa ia ingin lebih dari orang lain. Dia ingin melakukan semua pekerjaan sendiri itu agar dia dapat ganjaran yang tinggi sedangkan masih banyak orang lain yang susah mendapatkannya dan memerlukan pekerjaan tersebut. Seandainya semua orang mengamalkan sikap kerjasama dan melakukan segala sesuatunya bersama-sama, pastinya lebih banyak manusia yang hidup senang dan tiada kemiskinan.
Allah s.w.t memberi ancaman yang keras kepada mereka yang tamak.
Sesungguhnya manusia tidak bersyukur akan nikmat Tuhannya; Dan sesungguhnya ia (dengan bawaannya) menerangkan dengan jelas keadaan yang demikian; Dan sesungguhnya ia melampau sangat sayangkan harta (secara tamak haloba). (Patutkah ia bersikap demikian?) Tidakkah ia mahu mengetahui (bagaimana keadaan) ketika dibongkarkan segala yang ada dalam kubur? Dan dikumpulkan serta didedahkan segala yang terpendam dalam dada? Sesungguhnya Tuhan mereka, Maha Mengetahui dengan mendalam tentang (balasan yang diberikan-Nya kepada) mereka - pada hari itu. (Al- ‘Aadiyaat: 6 – 11)
Dan se`aliknya apabila ia diuji oleh Tuhannya, dengan di sempitkan rezekinya, (ia tidak bersabar bahkan ia resah gelisah) serta merepek dengan katanya: “Tuhanku telah menghinakan daku!” Janganlah demikian, (sebenarnya kata-kata kamu itucsalah). Bahkan (Perbuatan kamu wahai orang-orang yang hidup mewah, lebih salah lagi kerana) kamu tidak memuliakan anak yatim, (malah kamu menahan apa y!ng ia berhak m%nerimanya); dan kamu tidak menggalakkan untuk memberi makanan (yang berhak diterima oleh) orang miskin; - Dan kamu sentiasa makan harta pusaka secara rakus (dengan tidak membezakan halal haramnya), Serta kamu pula sayangkan harta secara tamak haloba! Jangan sekali-kali bersikap demikian! (Sebenarnya) apabila bumi (dihancurkan segala yang ada di atasnya dan) diratakan serata-ratanya, Dan (perintah) Tuhanmu pun datang, sedang malaikat berbaris-baris (siap sedia menjalankan perintah), Serta diperlihatkan neraka Jahannam pada hari itu, (maka) pada saat itu manusia akan ingat (hendak berlaku baik), dan bagaimana ingatan itu akan berguna lagi kepadanya? (Al-Fajr : 16-23)

HIKMAH



Uraian diatas bisa kita ambil pelajaran bahwa dalam berbisnis kita harus menghindari sifat tamak karena sifat ini hanya kan merugikan kita. Tamak mencari kekayaan dan kedudukan dengan jalan yang melampau batas dan terdorong melakukan perbuatan salah. Harta hendaklah dicari dengan cara yang halal dan kemudian dibelanjakan pula ke jalan kebaikan, Jika mempunyai harta yang berlebihan pergunakanlah untuk kebaikan atau diinfakkan. Orang yang memiliki harta menunjukkan rasa bersyukur dengan cara mengeluarkan zakat dan bersedekah. Orang tamak akan gagal, diakibatkan sifatnya yang tidak pernah puas dan melakukan semua diluar kemampuannya atau dia melakukan semuanya yang melampaui batas sehingga akan merusak usahanya. Tamak dan rakus kepada dunia, dapat menyebabkan hati seseorang terombang-ambing dan selalu dikejar-kejar nafsu untuk menumpuk harta sebanyak-banyaknya. angkuh, cinta akan dunia, tidak amanah dan iri hati. Ia berlawanan dengan sifat bersyukur, ikhlas, pemurah, rendah diri dan jujur.
Orang tamak dibagi menjadi dua: Orang tamak untuk menuntut ilmu, dia tidak akan puas. Kedua, orang tamak memburu harta, dia tidak akan puas. Ketamakan terhadap harta hanyalah akan menghasilkan sifat buas, laksana serigala yang terus mengejar dan memangsa buruannya. Sedangkan tamak dalam menuntut ilmu adalah tamak yang baik yang akan menghasilkan seorang Mukmin yang intelek. Hendaknya seorang Muslim tidak lagi silau terhadap kekayaan orang lain yang dihimpun karena ketamakan. Tamak adalah sifat hina, dan merupakan biji yang bisa memanjangkan pohon kehinaan itu sendiri manakala kita tanam dalam tubuh kita. Tamak itu sendiri adalah ketergantungan hati kita terhadap apa yang ada di tangan orang lain (makhluk). Kenapa Tamak menjadi sendi utama kehinaan? Karena orang yang tamak pasti meninggalkan Tuhan dan gairah hati hanya kepada selain Allah, kemudian ia bergantung kepada makhluk yang hakikatnya hina, lalu dia hanya mengaitkan dari kehinaan dengan kehinaan baru. Dari mana munculnya Tamak? Ternyata yang memunculkan sifat tamak dalam diri kita adalah Imajinasi (lamunan, Wahm).